Senin, 08 Agustus 2011

Seagrasses face extinction threat

By Matt Walker Editor, BBC Nature

"I was surprised by the level of threat to many species of seagrass”

Frederick Short Research Professor and Director of SeagrassNet


Seagrasses around the world are disappearing, with some species now threatened with extinction.

The first global survey of individual seagrass species has found that 14% are at risk of going extinct.
More common species are also in decline, meaning both seagrass habitat and diversity is being lost.

Seagrasses provide food and habitat for a variety of ocean species including manatees, sea turtles and fish such as sea horses.

Seagrasses are flowering plants that grow on the ocean floor.

They form vast meadows that flower and seed underwater, having evolved from land-based plants that entered the water millions of years ago.

Seagrasses alone form important marine habitats.

They act as nurseries for young fish and shellfish, and are the primary food for large marine mammals such as manatees and dugongs, as well as reptiles such as some sea turtles.

They also contribute to the health of coral reefs and mangroves, salt marshes and oyster reefs.
It has been known for a while that seagrasses are declining in many parts of the world.

26 of the 72 species of seagrass are declining in number, with 13 increasing. The rest are stable or unknown
Seagrasses provide food for dugongs and manatees, animals said to be the basis for the mermaid myths


The reasons are many, seagrass expert Frederick Short told the BBC.

Professor Short, of the University of Hampshire in Durham, US is the director of SeagrassNet, an international seagrass monitoring program with 114 sites around the world.

For example, seagrasses are gone from the most developed coastlines due to pollution, said Professor Short.

Seagrasses are in decline in the developing world due to sedimentation, caused by runoff from impacted watersheds and deforestation, and being overloaded with nutrients flowing into the sea from sewage and agricultural runoff.

Seagrasses are also being directly damaged by the dredging of seafloors."But there has never been a review of individual species status," said Professor Short.

So he and an international team of experts convened three workshops to gather all the knowledge about individual seagrasses, and used it to evaluate how at risk each species is. The workshops were hosted by Conservation International, the Global Marine Species Assessment programme and SeagrassNet.

The results are published in the journal Biological Conservation.

"I was surprised by the level of threat to many species of seagrass and to discover that seagrass biodiversity is under greater threat than I believed," he said.

Of the 72 species, his team found that 15 seagrasses should be considered Endangered, Vulnerable or Near Threatened, under criteria laid down by the International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List.

Of those, ten face a significant risk of extinction.
Phyllospadix japonicus is an important habitat-forming grass along the rocky shorelines of China, North and South Korea and Japan. But it has gone from swathes of China's coastline, due to seaweed aquaculture.
Zostera chilensis is known from only two locations on the coast of Chile, and seems to have already disappeared from one.

Of the 57 remaining species, 48 are considered of Least Concern, while sufficient data doesn't exist to make a judgement on the others.

"Many widespread, common seagrass species which are not presently threatened are nonetheless in decline, so we have both an overall loss of habitat and a loss of biodiversity," said Professor Short.

"Seagrasses are both direct food for important species and as they break down within the coastal ecosystem, they are part of a vast food web that provides food to many organisms within the coastal ocean, including many commercially and recreationally important species.

"Unfortunately, being submerged in the ocean they are rarely directly seen except by swimmers or snorkelers."

Kamis, 16 Juni 2011

Penemuan Coelacanth Akan Terus Berlanjut


Oleh Agung Dwi Cahyadi | 16-06-2011 | http://ngi.cc/nlK | alam dan lingkungan

Sepanjang 14 tahun terakhir, sebanyak 23 ikan purba Coelacanth telah ditemukan di perairan Indonesia. Jumlah itu bisa jadi terus bertambah seiring upaya pencarian habitatnya yang masih terus berlanjut.

Penemuan Coelacanth di perairan Indonesia itu merupakan hasil kerja sama antara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan Aquamarine Fukushima, Jepang. Menurut Djoko Hadi Kunarso, peneliti di Pusat Oseanografi LIPI, ikan-ikan itu ditemukan pada kurun waktu yang berbeda-beda dalam tiga survei yang dilakukan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Manado, dan Biak.

Berbeda dengan kerja sama antara LIPI dengan Jepang lainnya yang berakhir tahun 2009, penelitian ikan purba ini masih terus berlangsung. "Kami akan kembali melanjutkan penelitian di wilayah Ambon dan Halmahera bulan Agustus nanti," ungkap Djoko di Widya Graha LIPI (15/6). Oleh karena itu, kemungkinan bertambahnya penemuan Coelacanth masih terbuka.

Djoko pun menambahkan penelitian ini bertujuan untuk memetakan distribusi Coelacanth. Hingga saat ini, baru tiga tempat yang dipastikan sebagai sarang Coelacanth di Indonesia yaitu Buol, Teluk Manado, dan perairan Biak.
Mengingat status konservasi ikan langka ini yang berada pada tingkat kritis, penelitian yang dilakukan pun sifatnya pengujian di lokasi--sampel penelitian tidak dibawa ke permukaan.

Coelacanth adalah ikan purba yang diperkirakan telah punah sejak akhir Zaman Cretaceous, sekitar 65 juta tahun silam. Fosil Coelacanth telah ditemukan beberapa dekade lalu pada lapisan yang berusia 380 hingga 80 juta tahun lalu. Para ahli memperkirakan, masa hidup fosil tersebut bertepatan dengan tiga kali kepunahan massal yang melanda Bumi.

Namun di luar dugaan, ikan purba ini ditemukan pada tahun 1938 di Kepulauan Komoro, Tanzania, Afrika Selatan. Kemudian pada tahun 1997, seekor Coelacanth tertangkap jaring nelayan di perairan Manado, Sulawesi Utara. Pada Mei 2007, seorang nelayan kembali menangkap Coelacanth di lepas pantai Sulawesi Utara sehingga semakin menguatkan belum punahnya ikan ini.

Di dunia, habitat besar Coelacanth ditemukan di Afrika Selatan dan Indonesia, dua tempat yang terpisah sejauh 10 ribu kilometer. Para ahli mengidentifikasi kedua spesies itu sebagai Coelacanth Komoro (Latimeria chalumnae) dan Coelacanth Sulawesi (Latimeria menadoensis). Perbedaan keduanya terletak pada warna tubuh, Coelacanth Komoro berwarna biru baja sedangkan Coelacanth Sulawesi berwarna cokelat.

Sumber: NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA

Sabtu, 21 Mei 2011

Manusia Penyebab Paus dan Lumba terdampar??



guardian.co.uk, Friday 20 May 2011 13.43 BST


Banyak terori menyatakan kenapa paus terdampar dengan sendirinya di pantai?
Semua cetacean (Paus dan Lumba-lumba) Paus Pilot merupakan spesies yang biasa terdampar dengan sendirinya. Bahkan, nama paus pilot sendiri berasal dari kecenderung mereka yang selalu speerti 'pemimpin di depan". Hal ini mungkin menjadi salah satu alasan dari tingkah laku aneh 100 Paus Pilot yang pada saat ini sedang berputar-putar di South Uist Loch Carnan.

Sekor paus yang sedang sakit akan selalu menuju pantai (hal ini mungkin mereka tidak mampu lagi bertahan di air). Paus sangat loyal khususny terhadap kelompok sosialnya dan juga sangat loyal terhadap grupnya sehingga kemungkinan mereka akan mengikuti kawanannya sedang sakit dan terdampar di pantai. Tingkah laku ini telah disurvey terhadap paus yang mirip paus pilot yaitu paus sperm (sperm whales), meskipun mereka diketahui sebagai predator terbesar, mereka juga dapat terdampar dengan sendirinya di pantai, dan kadang bisa terdampar dalam jumlah yang besar.

Penjelasan lainnya terhadap tingkah laku aneh ini adalah cuaca yang buruk. Semenjak Museum Naturan History memulai mencatat paus terdampar di sekitar pantai Inggris tahun 1913, beberapa diantaranya telah tertarik pada saat kondisi badai dan kemudia beberapa paus terdampar. Terdapat beberapa tempat di dunia yang menjadi "Hot Spot" paus pilot terdampar, seperti: Pantai Barat skotlandia, dan seperti kejadi saat ini di Selandia Baru dan Cape Cod (Panati utara di USA).

Salah satu teori menyatakan bahwa Paus merupakan hewan migrasi seperti halnya burung, menggunakan garis elektro magnet di permukaan bumi sebagai navigasi. Mereka mungkin tertipu oleh anomali lokal pada medan mereka tersebut. Sebagai contoh "Wellfleet" di Cape cod sebuah lokasi terdamparnya paus terdampar merupakan sebuah keistemewaan geologi, yang mungkin melintasi jalur elektromagnetik yang lama.

Penjelasan lain terkait terdamparnya Paus secara massal adalah aktivitas seismic bumi yang dapat berubah menjadi awal terjadinya gempa bumi. 48 jam sebelum gempa yang terjadi di Christchurch Selandia Baru pada Februari yang lalu, lebih dari 100 ekor Paus Pilot mati di Pulau Stewart Sebelah selatan Selandia Baru Selatan telah terdampar 2 hari sebelum kejadian gempa. Tidak lama 1 minggu kemudian pada 4 maret 2011 50 Paus Kepala Melon terdampar di Timur Pantai Kashima Jepang sebelum bencana gempa bumi dasyat di Jepang.

Tetapi teori yang lebih kontroversial adalah salah satunya investigasi terbaru muncul adalah faktor anthropogenic atau "noise" yang dihasilkan oleh aktivitas manusia menjadi penyebab. Bagi Paus Indera pendengaran merupakan indera yang sangat untuk "membaca" lingkungan di bawah air. Mereka berkomunikasi, navigasi dan memburu dengan menggunakan suara. Penggunaan modern dari sonar militer yang melepaskan suara keras ke perairan tanpa didahului "alert" telah ungkapkan sebagai penyebab dari Paus-Paus yang menyelam dalam seperti Paus Pilot dan Paus Beaked berenang ke permukaan dengan cepat. Hal ini terjadi karena efek panic dan terkejut. Survey seismic untuk eksplorasi minyak khususnya di perairan Utara Skotlandia mungkin mempunyai efek yang sama.

Dampaknya, hewan tersebut mengalami syndrom seperti halnya para penyelam yang terlalu cepat naik ke permukaan dari kedalaman. penyakit dekompresi atau "Bend". Penyeledikan terhadap Paus Pilot mengungkapkan bahwa mereka menderita pecah pembuluh darah.

Hal penting pada kejadian - kejadian menyedihkan yang tidak biasa tersebut akan di analisis oleh Zoologycal Society of London. Penemuan-penemun tersebut, bersama dengan yang telah dikerjakan oleh Museum natural History yang didedikasikan untuk Program Investigasi Cetacean terdampar, akan membantu kita memahami bagaimana binatang yang indah ini bisa melakukan "bunuh diri masal" merupakan tidakan yang tragis dan memilukan.

Philip Hoare, pemilik Leviathan or, The Whale

Diterjemahkan dari
http://www.guardian.co.uk/environment/2011/may/20/humans-to-blame-whale-strandings

Senin, 16 Mei 2011

9 Spesies Laut baru Ditemukan Di Bali

May 14, 2011

(Bali, Indonesia / Arlington, Virginia, U.S.)
Terumbu Karang Indonesia Sedang Pulih, tetapi masih membutuhkan perlindungan.

Sebuah survei laut yanh telah dilakukan selama dua minggu oleh para ilmuwan dengan Conservation International (CI)Indonesia, bersama dengan mitra lokal, telah menemukan delapan potensi spesies ikan baru di perairan sekitar pulau Bali.

Survei ini bagian dari Program Rapid Assessment Program (RAP) yang panjang 20-tahun panjang dari CI's, Survey ini dilakukan atas permintaan pemerintah provinsi Bali dan Departemen Perikanan dan Kelautan untuk menilai kesehatan terumbu dan memberikan rekomendasi manajemen untuk 25 daerah yang diusulkan untuk dikembangkan menjadi jejaring kawasan perlindungan laut (MPA) di Bali, yang akan dirancang secara "ecologically-connected and resilient".

Di antara spesies potensial baru telah didokumentasikan dua jenis cardinalfish, dua varietas dottybacks, satu "garden eel", "sand perch", "fang blenny", spesies baru "goby" dan karang "Euphyllia" yang sebelumnya tidak diketahui. Studi lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengkonfirmasi taksonomi masing-masing spesies.

survey RAP ini, sama seperti survey sebelum-sebelumnya dilakukan CI bersama dengan mitra untuk pemerintah Bali pada bulan November 2008, terdokumentasi 953 spesies ikan karang dan 397 jenis karang di perairan Bali.

"Kami melakukan survei ini di 33 lokasi di seluruh Bali, hampir , dan terkesan oleh banyak dari apa yang kita lihat" kata Dr Mark Erdmann, penasehat senior untuk program kelautan CI Indonesia ". Ada begitu banyak variasi dari berbagai habitat yang luar biasa , dan yang mengejutkan tingginya tingkat keragaman dan terumbu karang yang tampaknya sedang berada dalam tahap pemulihan dari pemutihan, penangkapan ikan yang merusak dan ledakan COT /bintang laut berduri pada tahun 1990 an".

Direktur Eksekutif CI-Indonesia Ketut Sarjana Putra menambahkan, "Dibandingkan dengan dua belas tahun yang lalu, kami mengamati peningkatan terumbu karang yang sehat di daerah survei, menunjukkan fase pemulihan. Itulah sebabnya membutuhkan perlindungan dan Pengelolaaan yang serius, untuk menyelesaikan revitalisasi. "

Survei menemukan terumbu karang pulih dengan baik, dengan perbandingan karang hidup dan karang mati adalah 7 banding 1, tim survei RAP mengamati bahwa ikan karang komoditi penting mulai sangat habis. Lebih dari 350 menyelam, tim hanya mengamati total 3 hiu karang dan 3 napoleon - Hal tersebut kontras dengan terumbu yang sehat di mana seorang penyelam dapat menemukan preadtor tersbut dalam jumlah besar di setiap penyelamanannya. Tim juga menemukan sampah plastik di mana-mana dan mencatat penangkapan ikan oleh nelayan di daerah "Larang ambil" di wilayah Taman Nasional Bali Barat.

"Survei RAP menyoroti betapa pentingnya Kawasan Konservasi Laut untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari wisata bahari dan juga memberikan ketahanan pangan dan menjamin keberlanjutan perikanan rakyat dalam skala kecil," kata Erdmann.

Diantara rekomendasi yang dibuat oleh tim CI adalah prioritas yang area yang membutuhkan perlindungan segera, kebutuhan untuk perencanaan tata ruang untuk mengurangi konflik antara wisata bahari dan wilayah penangkapan ikan yang berkelanjutan, dibutuhkannya berkomitmen untuk penegakan hukum dan dana publik untuk mengelola DPL dan perlunya langkah-langkah yang ketat untuk mengelola polusi dari sampah plastik, limbah dan buangan sisa pertanian.

mitra CI dalam survei RAP Laut terdiri atas Pemerintah Bali dari Dinas Kelautan dan Perikanan bali , serta Kantor Riset Kelautan dan Universitas Warmadewa.http://www.blogger.com/img/blank.gif

Pendanaan untuk survei ilmiah diberikan oleh USAID Indonesia sebagai bagian dari Coral Triangle Support Partnership (CTSP). The Coral Triangle Support Partnership-Indonesia (CTSP-I) adalah Kolaborasi proyek lima tahun untuk mendukung perlindungan laut dan habitat untuk kepentinganmasayarakat dan mata pencaharian masyarakat yang berkelanjutan di Wilayah segitiga Karang di Indonesia, yang merupakan pusat keanekaragaman hayati laut dunia - dengan ekosistem laut yang paling beranekaragam di dunia, dan lebih dari 500 spesies karang, setidaknya 3.000 spesies ikan dan hutan mangrove terbesar yang tersisa di Bumi.


Diterjemahkan dari:
http://www.conservation.org/newsroom/pressreleases/Pages/New_Marine_Species_Bali.aspx

Kamis, 12 Mei 2011

Plankton Laut Menurun Seiring Air Menghangat

28 July 2010 Last updated at 17:23 GMT

Menurut penilitian jumlah fitoplankton di lapisan atas laut telah menurun tajam selama abad terakhir,
Tertulis di jurnal Nature, para ilmuwan mengatakan penurunan tersebut tampaknya terkait dengan naiknya suhu air laut. Mereka membuat penemuan tersebut dengan melihat transparansi/daya tembuh air laut oleh cahaya matahari, yang dipengaruhi oleh tanaman. Penurunan - sekitar 1% per tahun - yang signifikan secara ekologi karena plankton berada di dasar rantai makanan di laut.

Ini adalah studi pertama untuk mencoba melihat secara global dan komprehensif pada perubahan plankton pada skala waktu yang lama.

"Apa yang kita pikirkan yang terjadi adalah lautan semakin tergolong menjadi air yang hangat," kata pimpinan riset Daniel Boyce dari Dalhousie University di Halifax, Nova Scotia, Kanada

"Tanaman membutuhkan sinar matahari dari atas dan nutrisi dari bawah, dan hal tersebut membuat lautan menjadi lebih bertingkat, yang membatasi ketersediaan nutrisi,"katanya kepada BBC News.

Fitoplankton biasanya dimakan oleh zooplankton - hewan laut kecil - dimana Zooplankton tersebut menjadi mangsa untuk ikan kecil dan hewan lainnya.

Sistem pertama yang akurat untuk mengukur transparansi air laut dikembangkan oleh astronom dan imam Yesuit Pietro Angelo Secchi.

Ditanyakan oleh Paus pada tahun 1865 untuk mengukur tingkat kejernihan air di Laut Mediterania untuk angkatan laut , kemudian dia mengembangkan "Secchi disk", yang harus menjadi salah satu instrumen sederhana pernah ditenggelamkan, itu hanya diturunkan ke laut sampai warna putih yang menghilang dari pandangan.

Berbagai zat di dalam air dapat mempengaruhi transparansi, tetapi salah satu yang utama adalah konsentrasi klorofil, pigmen hijau yang merupakan kunci untuk fotosintesis pada tumbuhan di laut dan di darat.

Penurunan terlihat kecerahan air laut terjadi di sebagian besar dunia, terkecuali di Samudera Samudra Hindia. Telah terjadi peningkatan fitoplankton di wilayah pesisir di mana Run-off pupuk run-off dari lahan pertanian meningkatkan suplai nutrien di perairan.

Namun, pola ini jauh dari stabil. Selain sebagai tren jangka panjang, ada variasi yang kuat yang mencakup beberapa tahun atau beberapa dekade.

Banyak dari variasi yang berkorelasi dengan siklus alami dari suhu terlihat di lautan, termasuk El Nino Southern Oscillation (ENSO), North Atlantic Oscillation dan Oscillation Arktik.

Ujung dari penghangatan siklus co incided dengan pertumbuhan plankton, sedangkan kelimpahan lebih tinggi pada fase dingin.

Carl-Gustaf Lundin, ketua program kelautan di IUCN, berpendapat bahwa dimungkinkan ada faktor lain yang terlibat - terutama ekspansi besar di bidang perikanan laut terbuka yang telah terjadi selama abad ini.

"Secara logika kita harapkan bahwa peningkatan penagkapan maka jumlah zooplankton akan meningkat - dan yang seharusnya menyebabkan penurunan fitoplankton,"katanya kepada BBC News.

"Jadi ada sesuatu tentang menangkap ikan belum diperhitungkan dalam analisis ini."

Metode membagi laut ke dalam grid yang digunakan para peneliti Dalhousie, katanya, tidak memungkinkan pengawasan daerah dimana perairan tersebut sangat penting, seperti upwelling di Pasifik Timur yang mendukung perikanan ikan teri Peru - perikanan terbesar di planet ini.

Jika Trend itu benar-benar terjadi,hal itu bisa memicu mempercepat pemanasan, demikian catatan dari para peneliti.

Fotosintesis oleh fitoplankton menghilangkan karbon dioksida dari udara dan menghasilkan oksigen.

Di beberapa bagian dunia, terutama Lautan bagian selatan bumi, para ilmuwan telah mencatat bahwa air lsut cenderung kurang menyerap CO2 - meskipun hal ini dianggap karena perubahan pola angin - dan menyebabkan CO2 di udara berlebih yang secara logis hal tersebut menimbulkanpemanasan yang lebih besar.

"Fitoplankton ... menghasilkan setengah dari oksigen yang kita hirup, menyerap CO2 permukaan, dan akhirnya menguntungkan perikanan kita," kata Boris Worm, seorang anggota tim Dalhousie.

"Sebuah laut dengan fitoplankton yang kurang akan memiliki fungsi berbeda."
Pertanyaannya adalah: bagaimana bisa berbeda?
Jika planet terus hangat, penurunan secara keseluruhan fitoplankton akan terus terjadi
"Sangat riskan untuk mengatakan akan ada penurunan lebih terus menerus, tetapi di sisi lain mungkin ada faktor lain , jadi saya tidak berpikir bahwa mengatakan 'kenaikan suhu mengakibatkan penurunan fitoplankton' adhttp://www.blogger.com/img/blank.gifalah akhir dari ini semua," katanya ..
"Jika dalam kenyataannya produktivitas akan turun begitu banyak, implikasinya carbon yang terserap dan tersimpan menjadi berkurang di laut"katanya.

"Jadi itulah layanan yang semakin kemanusiaan gratis yang akan kehilangan, dan ada juga akan berdampak pada ikan, dengan ikan kurang dalam lautan dari waktu ke waktu.

Richard.Black-INTERNET@bbc.co.uk

Diterjemahkan dari:
http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-10781621
TEMPERATURE INFLUENCES SELECTIVE MORTALITY DURING THE EARLY LIFE STAGES OF CORAL REEF FISH

Tauna L. Rankin, Su Sponaugle*

Marine Biology and Fisheries, Rosenstiel School of Marine and Atmospheric Science (RSMAS)/University of Miami, Miami, Florida, United States of America

Abstract

For organisms with complex life cycles, processes occurring at the interface between life stages can disproportionately impact survival and population dynamics. Temperature is an important factor influencing growth in poikilotherms, and growth-related processes are frequently correlated with survival. We examined the influence of water temperature on growth-related early life history traits (ELHTs) and differential mortality during the transition from larval to early juvenile stage in sixteen monthly cohorts of bicolor damselfish Stegastes partitus, sampled on reefs of the upper Florida Keys, USA over 6 years. Otolith analysis of settlers and juveniles coupled with environmental data revealed that mean near-reef water temperature explained a significant proportion of variation in pelagic larval duration (PLD), early larval growth, size-at-settlement, and growth during early juvenile life. Among all cohorts, surviving juveniles were consistently larger at settlement, but grew more slowly during the first 6 d post-settlement. For the other ELHTs, selective mortality varied seasonally: during winter and spring months, survivors exhibited faster larval growth and shorter PLDs, whereas during warmer summer months, selection on PLD reversed and selection on larval growth became non-linear. Our results demonstrate that temperature not only shapes growth-related traits, but can also influence the direction and intensity of selective mortality.

Citation: Rankin TL, Sponaugle S (2011) Temperature Influences Selective Mortality during the Early Life Stages of a Coral Reef Fish. PLoS ONE 6(5): e16814. doi:10.1371/journal.pone.0016814

Editor: Vincent Laudet, Ecole Normale Supérieure de Lyon, France

Received: September 23, 2010; Accepted: January 3, 2011; Published: May 2, 2011

Copyright: © 2011 Rankin, Sponaugle. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original author and source are credited.
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Funding: This study was funded by NSF Grant No. OCE-9986359 to S. Sponaugle. The funders had no role in the study design, data collection and analysis, decision to publish, or preparation of the manuscript.

Competing interests: The authors have declared that no competing interests exist.

* E-mail: trankin@rsmas.miami.edu

Read more: http://www.plosone.org/article/info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0016814

Larval Connectivity in an Effective Network of Marine Protected Areas

Mark R. Christie1*, Brian N. Tissot2, Mark A. Albins1, James P. Beets3, Yanli Jia4, Delisse M. Ortiz5, Stephen E. Thompson6, Mark A. Hixon1

1 Department of Zoology, Oregon State University, Corvallis, Oregon, United States of America, 2 School of Earth and Environmental Science, Washington State University, Vancouver, Washington, United States of America, 3 Department of Marine Science, University of Hawaii at Hilo, Hilo, Hawaii, United States of America, 4 International Pacific Research Center, University of Hawaii, Honolulu, Hawaii, United States of America, 5 National Marine Fisheries Service, Highly Migratory Species Management Division, Silver Spring, Maryland, United States of America, 6 Marine Environmental Research, Kailua-Kona, Hawaii, United States of America

Abstract

Acceptance of marine protected areas (MPAs) as fishery and conservation tools has been hampered by lack of direct evidence that MPAs successfully seed unprotected areas with larvae of targeted species. For the first time, we present direct evidence of large-scale population connectivity within an existing and effective network of MPAs. A new parentage analysis identified four parent-offspring pairs from a large, exploited population of the coral-reef fish Zebrasoma flavescens in Hawai'i, revealing larval dispersal distances ranging from 15 to 184 km. In two cases, successful dispersal was from an MPA to unprotected sites. Given high adult abundances, the documentation of any parent-offspring pairs demonstrates that ecologically-relevant larval connectivity between reefs is substantial. All offspring settled at sites to the north of where they were spawned. Satellite altimetry and oceanographic models from relevant time periods indicated a cyclonic eddy that created prevailing northward currents between sites where parents and offspring were found. These findings empirically demonstrate the effectiveness of MPAs as useful conservation and management tools and further highlight the importance of coupling oceanographic, genetic, and ecological data to predict, validate and quantify larval connectivity among marine populations.

Read more: http://www.plosone.org/article/info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0015715

Overfished bluefin tuna's status should be endangered

Overfished bluefin tuna's status should be endangered: experts

Advisers say spawning fish declined by 68 per cent over 2.5 generations

By Margaret Munro, Postmedia News May 10, 2011

Canada's top wildlife advisers say the Atlantic bluefin tuna, which has been known to fetch $1,000 per kilogram on sushi markets, is so overfished it should be listed as an endangered species.

But the Department of Fisheries and Oceans is in no hurry to stop the killing of the iconic fish in Maritime waters.

"Our Atlantic bluefin tuna fishery is the best managed fishery of its kind in the world today," Frank Stanek, DFO's manager of media relations, said by email when asked if the call for the endangered listing would put an end to the fishery. About 500 tonnes of the bluefin tuna were caught in Canadian waters last year.

"It would be premature to discuss the listing of these species under the Species at Risk Act before formal consultations with Canadians, further analysis of existing scientific information, and possible social and economic impacts are considered," Stanek said.

The Committee on the Status of Endangered Wildlife in Canada (COSEWIC) announced its bluefin tuna recommendation Monday when it released the grim status of several species that it says need protection under Species at Risk Act.

Alan Sinclair, who co-chaired the COSEWIC's bluefin assessment, said overfishing was identified as "the main threat" to bluefin tuna.

"It only makes sense to reduce fishing or to stop fishing altogether in order to reduce and eliminate this threat," he said.

Personally, Sinclair added, "I think Canadians should stop fishing this magnificent fish. It has been exploited for several decades; now it's time to give it every opportunity to recover."

COSEWIC includes experts from provincial, territorial, federal wildlife agencies, as well as aboriginal and public representatives. It met in Charlottetown, P.E.I., last week and its recommendations now go to the federal environment minister for listing consideration under the act.

If the bluefin is listed as endangered, it would put an end to the Canada's controversial bluefin tuna fishery.

The bluefin is one of the most highly sought-after fish in the world "with some market prices exceeding $1,000 per kilogram," the committee says.

"Unfortunately, its value has driven the species into a steep decline since the 1970s with recent abundance reaching an all-time low," said COSE-WIC, noting abundance of spawning fish has declined by 68 per cent over the past 2.5 generations.

Bluefin tuna are fished along the east coast of North America as they migrate to the Maritimes from their spawning grounds in the Gulf of Mexico.

And spawning tuna were exposed to Deepwater Horizon oil spill in the gulf last year.

"While the effects of the spill on the species are currently unknown, it may represent an additional threat," COSEWIC said.

The committee also raised alarm over several other species -from the once-common barn swallow to the oolichan, a small fish that used to be a cultural mainstay of many first nations people.

But the committee did have some good news, saying the humpback whale has made a comeback.

"The population off the Pacific coast is increasing steadily, was despite continuing threats including collisions with ships, entanglement with fishing gear and underwater noise," the committee said.

It recommends that North Pacific population of the humpback be reclassified as a species of special concern, which is less worrisome than the threatened status the humpback has had since 1985.

The oolichan was once so common along the B.C. coast, first nations people hauled the fish and its oil across the mountains creating the famed "grease trails" that linked coastal and inland communities. The fish, a dietary mainstay, contains so much oil they were also used as candles.

"Since the early 1990s, many traditional fisheries for this species have seen catastrophic declines of 90 per cent or more, and the species is facing extirpation in many rivers," COSEWIC said. "The cause is unclear but may be related to reductions in marine survival associated with shifting environmental conditions, bycatch, directed fishing and predation."

The Nass River, in northern B.C., still supports a fishery but even their numbers have declined to the point where the population is threatened, the committee said. Populations on the central coast and the Fraser River are even worse off and should be listed as endangered.

As for the barn swallow, the wildlife experts say the oncecommon bird should be listed as threatened. Declines of up to 76 per cent in the past 40 years "baffle bird experts," the committee said, but changes in habitats, insect communities and climate have all been implicated.

The committee also said two rare species in Ontario should also be listed as endangered -the salamander mussel that is now only found in the Thames River and the Hungerford's crawling water beetle, seen in only three Lake Huron streams.

"Observed declines coupled with habitat degradation and restricted range led to a designation of endangered for both species."
© Copyright (c) The Vancouver Sun

Read more: http://www.vancouversun.com/news/Overfished+bluefin+tuna+status+should+endangered+experts/4755677/story.html#ixzz1MA0CqcYI