Kamis, 22 Oktober 2009

Ikan Hiu Tutul Terdampar di Tuban


TUBAN, KOMPAS.com - Seekor ikan hiu jenis tutul dengan panjang lebih dari 4 meter, Senin (19/10) terdampar di pantai utara Tuban. Hiu itu saat subuh sempat tersangkut pukat nelayan bernama Khasim, warga Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, sekitar 10 mil dari bibir pantai. Khasim tidak berani melepas pukat yang melilit tubuh hiu itu karena takut diserang.

Hiu itu pun ditarik ke tepi pantai, setelah tidak bisa bergerak dia melepas pukat dan mengikat ikan itu dengan tali tambang plastik atau tampar. Ikan itu pun terombang-ambing ombak dan menjadi tontonan warga. Berat bagian ekornya saja diperkirakan mencapai 500 kilogram..

Setelah dua jam berada di bibir pantai, ikan hiu pemakan plankton itu dilepas kembali oleh warga ke tengah laut untuk menjaga ekosistem laut. Seorang nelayan Wakid terluka bagian tangan kanannya karena terkena gigi ikan hiu saat melepasnya ke tengah laut.

Diduga kondisinya lemas dan tidak mampu melawan ombak, Senin siang, akhirnya hiu itu ditemukan mati terdampar di bibir pantai. Nelayan lainnya Edo Hermansyah menyatakan hiu itu akan dikuburkan oleh warga. Awalnya hiu itu tersangkut pukat. "Ekornya terluka bekas terkena tampar," katanya.


Sumber: www.kompas.com

Minggu, 11 Oktober 2009

Bottlenose Dolphin Gang Rumble

LUMBA - LUMBA : DI LAUT PERSAHABATAN TAMAT



Potongan Daging Lumba - Lumba di Pasar (GATRA/Abdul Aziz)LUMBA-lumba sebagai sahabat manusia tampaknya hanya mitos belaka. Setidaknya itulah yang berlaku di Bagan Siapiapi, Riau. Nelayan yang semula bersahabat dan enggan mengusik mamalia laut itu, karena dipercaya suka menolong manusia, kini berubah sikap. Satwa cerdas yang kerap dilatih untuk beratraksi di berbagai tempat wisata itu diburu. Dagingnya dipercaya berkhasiat sebagai obat kuat.

Adalah Forum Kelompok Pelestarian Sumber Daya Alam (KPSA) Riau yang melansir maraknya perburuan lumba-lumba di perairan sekitar Bagan Siapiapi, Ahad dua pekan lalu. Menurut Ketua KPSA, Bismark Tampubolon, tiap pekan tak kurang dari lima ekor lumba-lumba ditangkap. Hewan itu kemudian dijual kepada nelayan Singapura, Malaysia, dan Thailand. "Harganya Rp 500.000 per ekor yang berukuran 100 kilogram," kata Bismark.

Belakangan, daging lumba-lumba juga dijajakan di pasar lokal, khususnya di Bagan Siapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, sekitar 300 kilometer selatan Pekanbaru. Peminatnya rupanya terus meningkat dari waktu ke waktu. Tidak mengherankan, demikian kata sejumlah pedagang di Pasar Bagan Hulu, pasar ikan terbesar di kota itu, daging lumba-lumba laris manis.

Udin, 30 tahun, pedagang ikan di Bagan Hulu, mengaku membeli daging lumba-lumba dari nelayan seharga Rp 10.000 per kilogram. Daging siap masak itu ia jual lagi seharga Rp 15.000 hingga Rp 16.000. Bandingkan dengan harga daging tongkol yang cuma Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per kilogram. "Karena hasil tangkapan nelayan terbatas, seminggu saya cuma bisa menjual 250 kilo daging lumba-lumba," kata Udin.

Maraknya penjualan daging lumba-lumba itu membuat gerah Andreas Heri Kahuripan. Ketua Lembaga Pengkajian Hutan Indonesia (LPHI) wilayah Riau itu mengaku sangat prihatin. "Hewan itu banyak diburu di perairan Pulau Halang, Pulau Sinaboi, dan Teluk Lumba-lumba," kata Andreas.

Para cukong, menurut Andreas, kemudian membawanya ke Pulau Jemur, enam jam dengan perahu motor dari Bagan Siapiapi. Dari sana, hewan tangkapan itu diangkut ke Singapura. Mereka kabarnya mengekspor daging lumba-lumba itu ke Malaysia, Cina, bahkan Eropa. Selain dagingnya, bagian yang dipercaya berkhasiat, antara lain, sirip ekor dan hati. Tapi hingga kini, tak ada hasil penelitian yang membuktikannya.

Iskandar, seorang nelayan di Bagan Siapiapi, menuturkan bahwa lumba-lumba biasanya tak pernah ditangkap meski tersangkut jaring. "Hewan itu bikin kesal, sebab jika tersangkut, merusak jaring," katanya. Celakanya, lumba-lumba yang sudah terluka biasanya tak berumur panjang. "Besok atau lusanya pasti ditemukan mati," kata Iskandar.

Lima tahun terakhir, ujar Iskandar, banyak bandar dari Singapura datang ke Bagan Siapiapi memesan daging lumba-lumba. Harganya pun menggiurkan. Sejak itulah, perburuan marak dilakukan. Masyarakat pun mulai mencoba-coba daging mamalia ini. "Dagingnya ternyata bisa memanaskan badan," kata Syahminan, warga Bagan Siapiapi.

Yang cemas bukan hanya LPHI. Kepala Dinas Perikanan Rokan Hilir, Amrizal, pun ketar-ketir. Soalnya, lumba-lumba termasuk hewan yang dilindungi. Karena itu, lembaga swadaya masyarakat Greenpeace pernah memprotes nelayan Jepang yang sering memotong ekor lumba-lumba jika terjerat jaring. Sebab, hewan yang terluka dan cacat itu pasti tak berumur panjang.

Lumba-lumba yang hidup di perairan Bagan Siapiapi diduga punya wilayah jelajah hingga ke Teluk Benggala di sisi utara Lautan Hindia hingga Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. "Kami akan melakukan sosialisasi untuk menghentikan perburuan lumba-lumba," kata Himawan, Koordinator Perlindungan Satwa, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau.

Bahtrim, pengurus Lembaga Adat Melayu Bagan Siapiapi, menyatakan bahwa masyarakat Sungai Rokan sebenarnya diharamkan makan daging lumba-lumba. Pria 60 tahun, warga Jalan Bahagia, Bagan Siapiapi, itu menuturkan sebuah legenda tentang Cik Sulaeman. Konon, pahlawan Sungai Rokan itu pernah ditolong oleh lumba-lumba ketika berperang di laut melawan penjajah Portugis, enam abad silam. "Sejak itu, Cik Sulaeman melarang anak-cucunya membunuh lumba-lumba," kata Bahtrim. Sejauh itu pula lumba-lumba hidup aman, bersahabat dengan para nelayan.

Apa lacur, kini nelayan Sungai Rokan hanya menganggap cerita itu sebagai dongeng lama.

Sumber: Gatra.Com

Populasi Lumba-Lumba Terancam

Populasi Lumba-Lumba Terancam

PUNDUH PIDADA (Lampost): Populasi lumba-lumba kembali terancam setelah sejumlah kapal nelayan asal Banten melakukan aksi perburuan lumba-lumba di sepanjang pesisir Teluk Pedada hingga ke Teluk Kiluan.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Lampung Post di sejumlah lokasi pesisir Teluk Pedada, Selasa (15-9), menunjukkan jika aktivitas perburuan lumba-lumba masih terlihat. Bahkan, dari kejauhan terlihat aktivitas nelayan sedang mengangkat seekor lumba-lumba.

Dirhamsyah, kelompok masyarakat pengawas setempat, menyebutkan terdapat satu kapal nelayan yang masih sering beroperasi. Yaitu, kapal Jaya Mulya asal Labuhan, Banten. "Sejak hari Minggu (13-9), kapal itu sering terlihat mengitari perairan Teluk Pedada sampai ke Teluk Kiluan. Ada warga kami yang melihat dua ekor lumba-lumba di kapal mereka," kata Dirhamsyah.

Jika dihitung sejak Minggu (13-9) lalu, kata dia, sudah sekitar 10 ekor lumba-lumba yang berhasil diburu kawanan nelayan spesialis pemburu lumba-lumba untuk diekspor tersebut. "Di tengah laut, kami sering melihat darah lumba-lumba," kata dia.

Selain kapal nelayan asal Banten yang masuk melalui Selat Sunda, kapal lain yang juga sering melakukan perburuan dengan modus bom berhulu ledak besar juga dilakukan nelayan asal Gudanglelang, Telukbetung.

Umumnya, para nelayan pemburu spesialis lumba-lumba ini beroperasi di titik-titik populasi lumba-lumba. Seperti di Teluk Pedada, Pulau Hiu, dan Pulau Tungkalit, di sekitar perairan pulau dan Teluk Kiluan.

Populasi lumba-lumba diketahui sangat banyak. Terlebih, pada bulan-bulan seperti saat ini, tingkat populasi semakin tinggi. Karena, lumba-lumba yang dikenal sebagai hewan penjelajah ini berdatangan dari berbagai perairan.

"Ini sedang musim kawin. Jadi, umumnya mereka berkumpul di titik-titik populasi untuk mencari pasangannya," kata Riko Stefanus, aktivis dari LSM Cikal.

Butuh Bantuan

Dirhamsyah juga mengaku sudah berkali-kali meminta bantuan kepada petugas patroli kelautan maupun Marinir setempat untuk mengawasi perburuan lumba-lumba itu. Namun, tidak pernah mendapatkan respons.

"Kami sempat mengejar satu kapal nelayan yang biasa memburu lumba-lumba. Tapi, ketika perahu kami semakin dekat, para nelayan justru mengarahkan senpi rakitan kepada kami untuk menjauh dari kapal mereka," kata dia.

Riko Stefanus dari Cikal berharap petugas patroli maupun dinas terkait segera merespons aksi perburuan yang terus mengancam populasi lumba-lumba di Teluk Lampung ini.

"Dulu, sebelum marak perburuan, populasinya masih membutuhkan banyak perlindungan. Kondisi ini ditambah dengan maraknya perburuan, jumlahnya kian menyusut. Kemungkinan, banyak lumba-lumba yang bermigrasi karena titik populasi lumba-lumba ini pun ada yang dipasang perangkap," kata dia. n SWA/D-3

Sumber: Lampung Post

Sabtu, 10 Oktober 2009

Whale Shark Mampir di Suramadu

SURABAYA, Seekor hiu tutul ( Whale shark)ditemukan nelayan dalam kondisi mati di Selat Madura. Ikan sepanjang tujuh meter itu sempat menjadi tontonan ratusan warga Surabaya dan sekitarnya. "Penemuan ikan tersebut membawa berkah tersendiri bagi kami, karena pendapatan dari melaut sedang sepi-sepinya," kata nelayan penemu ikan tersebut, Rofii, di Kelurahan Tambak Wedi, Surabaya, Sabtu (3/1).

Lokasi penemuan ikan itu, katanya, berada sejauh tiga mil ke arah timur dari perairan di kolong Jembatan Tol Suramadu. Penemuan itu berawal ketika ia dan temannya bernama Salam berangkat melaut pada Jumat (2/10) pukul 08:30 WIB. "Tepat pukul 09:00 WIB, tiba-tiba kami melihat seekor hiu tutul terapung. Waktu itu kami belum bisa memastikan ia mati atau hidup," ujarnya.

Lalu, ia kembali ke tepi laut dan meminta tolong kepada sejumlah rekannya. Setelah mereka memastikan bahwa ikan yang ditengarai anak hiu dengan berat satu ton tersebut langsung dibawa ke tepi laut. "Tak tanggung-tanggung ada lima unit kapal motor berukuran kecil atau sebanyak 40 orang nelayan berkenan menarik ikan tersebut," katanya.

Setelah ditemukan pukul 09:00 WIB, ia mengaku, ikan itu sampai di tepi laut pada pukul 24:00 WIB. Setibanya di tepi laut, pihaknya mendirikan pagar pembatas dari bambu dan ditutupi kain terpal berwarna biru. "Serentak beberapa warga masyarakat Kelurahan Tambak Wedi mengerumuni hiu temuan kami," katanya.

Mukran, nelayan di Kelurahan Tambak Wedi yang ikut membantu menarik ikan itu, menambahkan, penemuan hiu itu merupakan kejadian pertama di kampungnya.

Sementara, masyarakat yang ingin melihat bentuk fisik ikan itu dikenakan tiket masuk Rp 2.000,00 per orang. "Namun, bagi pengunjung usia anak-anak, kami mengenakan biaya Rp 1.000,00 per orang. Sejak ditepikan kemarin hingga hari ini, ada ratusan pengunjung yang penasaran dengan hiu tutul itu," katanya.

Pemberlakuan tiket itu, kata dia, dialokasikan untuk membayar parkir kendaraan dan mengganti bahan bakar minyak (BBM) yang dikeluarkan saat menarik ikan itu. "Saat menarik anak hiu tersebut, kami menghabiskan Rp 35.000,00 atau sekitar tujuh liter solar," katanya.

Selain itu, ia melanjutkan, uang yang terkumpul dari tiket masuk yang dibayarkan pengunjung akan dimasukkan ke kas Koperasi Nelayan Cumi-cumi RW II Kelurahan Tambak Wedi Surabaya. "Di sisi lain, apabila ikannya sudah berbau busuk kami akan membuangnya ke laut. Kemungkinan pekan depan akan kami kembali ke laut," katanya.

Sebelumnya, pengelola koperasi nelayan yang tak jauh dari Koperasi Nelayan Cumi-cumi, telah tiga kali menemukan hiu serupa. Mereka mengaku, sejumlah ikan tersebut kerap muncul menjelang datangnya musim "ketigo" (musim kemarau dalam bahasa Jawa) seperti saat ini. "Saat itu, mereka akan muncul berkoloni dan melintas di perairan ini. Selain hiu tutul, banyak jenis dan ukuran beragam yang sering terlihat oleh para nelayan, semisal hiu hijau dan hiu biru," katanya.

sumber: by Pinky.Ngomers October 3rd, 2009, 18:34