Selasa, 11 November 2008

Ekosistem terumbu karang Pulau Sebesi Lampung

Pulau Sebesi secara geografis berada pada posisi 050 55’37,43” - 050 58’44,48” LS dan 1050 27’ 30.50” - 1050 30’47,54” BT. Pulau Sebesi termasuk ke dalam wilayah administrasi Desa Tejang Pulau Sebesi Kecamatan Raja Basa Kabupaten Lampung Selatan. Luas wilayah Pulau Sebesi adalah 2620 ha dengan panjang pantai 19,55 km (Wiryawan et al., 2002). Pada tahun 2002 Pulau Sebesi ditetapkan sebagai Daerah Perlindungan Laut
dengan model pengembangan berbasis masyarakat. Daerah Perlindungan Laut Berbasis-Masyarakat merupakan daerah pesisir dan laut yang dapat meliputi terumbu karang, hutan mangrove, lamun, atau habitat lainnya secara sendiri atau bersama-sama yang dipilih dan ditetapkan untuk ditutup secara permanen dari kegiatan perikanan dan pengambilan biota laut, dan pengelolaannya yang dilakukan secara bersama antara pemerintah, masyarakat dan pihak lain, dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi pengelolaannya (Tulungen et al., 2002).

Menurut (Tulungen et al., 2002) tujuan penetapan Daerah Perlindungan Laut Berbasis-Masyarakat antara lain:
1) Meningkatkan dan mempertahankan produksi perikanan, di sekitar daerah perlindungan.
2) Menjaga dan memperbaiki keanekaragaman hayati pesisir dan laut seperti keanekaragaman terumbu karang, ikan, tumbuhan dan organisme lainnya.
3) Dapat dikembangkan sebagai tempat yang cocok untuk daerah wisata.
4) Meningkatkan pendapatan/kesejahteraan masyarakat setempat.
5) Memperkuat masyarakat setempat dalam rangka pengelolaan sumberdaya alam mereka.
6) Mendidik masyarakat dalam hal perlindungan/konservasi sehingga dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kewajiban masyarakat untuk mengambil peran dalam menjaga dan mengelola sumberdaya mereka secara lestari.
7) Sebagai lokasi penelitian dan pendidikan keanekaragaman hayati pesisir dan laut bagi masyarakat, sekolah, lembaga penelitian dan perguruan tinggi.

UNDUH FILE

Kamis, 16 Oktober 2008

Pemutihan karang

Terumbu karang di dunia mengalami kerusakan karena pengaruh-pengaruh kegiatan antropogenic diantaranya: Penangkapan berlebih, limbah dari kegiatan pertanian, sedimentasi akibat pembangunan di pesisir pantai dan penggundulan hutan, serta perubahan suhu, salinitas dan alkalinitas akibat perubahan iklim global. Pada tahun 1998 sekitar 11% karang dunia telah rusak akibat aktivitas manusia serta penangkapan berlebih dan sekitar 16 % terancam mati akibat pemutihan karang sebagai respon dari pemanasan global. Meningkatnya pemutihan karang menunjukkan bahwa karang terancam oleh perubahan iklim global ditambah dengan gangguan lain seperti “run off” dan over fishing

Pemanasan global/Global warming secara langsung dapat mengurangi persen penutupan karang melalui pemutihan karang. Terumbu karang terutama dari ordo Scleractinia bersimbiosis dengan alga uniseluler yang disebut Zooxanthellae. Alga ini hidup pada jaringan hewan karang dan melakukan aktivitas photosintesis pada jaringan tersebut. Zooxanthellae merupakan pemasok terbesar oksigen dan makanan bagi hewan karang serta memberikan warna pada hewan karang. Sebaliknya hewan karang memberikan nutrient, carbon dioxide dan tempat berlindung dari predator lainnya. Simbiosis ini memegang peranan penting dalam pembentukan terumbu.

Zooxanthellae sangat peka terhadap perubahan suhu,jika terjadi peningkatan suhu ekstrim sampai 2 derajat, zooxanthellae keluar dari jaringan hewan, sehingga hewan karang kehilangan warna dan pemasok energi. Hal ini berakibat pada penurunan proses metabolisme karang dan berkurangnya proses kalsifikasi karang. Pada tahap ini hewan karang terus bertahan tanpa zooxanthellae sehingga warnanya transparan dan jika kondisi ini terus berlangsung akan mengakibatkan kematian karang dalam luasan yang sangat besar. Seperti yang terjadi pada tahun 1998 fenomena El Nino, dimana peningkatan suhu air laut di Pasific dan Laut India yang menyebabkan pemutihan karang dan kematian karang yang sangat luas di beberapa Negara. Sebagai contoh 90% karang di Palau memutih dan 50% diantaranya mati, di Maldive 50% pemutihan karang menyebabkan penurunan persentasi karang mencapai 5%.





CORAL BLEACHING
Coral reefs damaged in the world because of the influence-the influence of these activities antropogenic: over fishing, run off from agricultural activities, sedimentation due to coastal development in the coastal and forest denudation, and changes in temperature, salinity and alkalinity due to global climate change. In 1998 about 11% world's coral reefs have been damaged due to human activity and the over fishing and threatened about 16% die as a result of coral bleaching response from global warming. Increased coral bleaching indicates that the reef threatened by global climate change plus the interference, such as "run off" and over fishing

Global warming / Global warming could reduce the direct closure of coral reefs through bleaching. Coral reefs, especially Scleractinia symbiosis with alga uniseluler called Zooxanthellae. this Alga life on the coral animals and photosintesis activity on the network. Zooxanthellae is the largest supplier of food and oxygen for the coral animal and provide color in the coral animals. On the coral animal provides nutrient, Carbon Dioxide and shelter from other predators. This symbiosis play an important role in the formation of Terumbu.

Zooxanthellae are very sensitive to temperature changes, in case of extreme temperature increase to 2 degrees, zooxanthellae out from the animals tissue, so that the coral animals to lose color and energy suppliers. This process resulted in a decrease in metabolism and less coral reef calcification process. At this stage, animals continue to survive without coral zooxanthellae so that the color will be transparent and if this continues will result in the death of coral reefs in the very large area. As happened in 1998, the El Nino phenomenon, where increasing sea water temperature in the Pacific and Indian Ocean that cause coral bleaching and coral death is very knowledgeable in several countries. For example 90% in the Palau coral turn and 50% of them were dead, in the Maldive coral bleaching 50% decline in coral percentage reaches 5%.